Pertumbuhan gigi anak ditandai dengan tumbuhnya gigi sulung yang biasa disebut gigi susu, saat bayi berusia 6-9 bulan. Umumnya jumlah gigi sulung akan lengkap saat anak menginjak 3 tahun.

Sementara ketika Si Kecil berusia sekitar 5-7 tahun, gigi geraham permanen pun tumbuh untuk pertama kali. Deretan gigi permanen ini kemudian akan lengkap saat ia telah berusia 12 tahun.

Urusan kesehatan gigi sering kali lolos dari pemantauan karena gigi dianggap akan tumbuh dan berfungsi dengan sendirinya. Padahal, jika kesehatan gigi Si Kecil diabaikan, efeknya dapat ia rasakan saat beranjak dewasa.

Membersihkan gigi harus dimulai sejak dini alias pertama kali gigi tumbuh. “Di usia 6 bulan, ketika gigi bayi mulai tumbuh, orang tua bisa membersihkan gigi Si Kecil dengan kain kasa atau sikat gigi kecil yang dibahasi air putih,” ujar drg. Avianti Hartadi, Sp.KGA dari Kharinta Clinic, Bintaro.

drg. Avianti Hartadi, Sp. KGA

drg. Avianti Hartadi, Sp. KGA

Fungsi Si Sulung

Meski usianya tak terlalu lama, ternyata gigi sulung memiliki banyak fungsi lo. Salah satunya, ia berfungsi menyiapkan ruang bagi gigi permanen untuk tumbuh. “Gigi permanen tumbuh berdasar guidance dari gigi sulung. Jika gigi sulung lepas sebelum waktunya, terkadang pertumbuhan gigi pengganti tidak sesuai dengan jalur. Akibatnya, gigi anak tidak rapi,” terang dokter yang akrab disapa Anti ini.

Selain itu, ia menambahkan, gigi sulung pun ikut andil dalam fungsi berbicara, pertumbuhan rahang, dan sebagai penentu estetika. “Dengan gigi sulung, anak bisa mengunyah makanan sehingga rahang berkembang. Jika gigi anak berlubang, sakit dan anak malas untuk mengunyah makanan atau malah mengemut makanan, akibatnya rahang kurang berkembang optimal,” terang Anti.

Gangguan Gigi

Penyakit gigi yang paling umum pada anak adalah karies atau gigi berlubang. Hal ini bisa berlanjut pada gigi hitam dan karies pun meluas. Banyak orang tua menganggap karies sebagai hal biasa pada anak karena, toh, gigi sulung akan diganti dengan gigi tetap, kan?

Padahal jika karies meluas, bahkan hingga tanggal, maka ia kesulitan menggigit makanan dan fungsinya terganggu. “Apalagi karies di gigi bagian belakang yang lebih banyak digunakan untuk mengunyah. Ini bisa membuat anak kesakitan dan tidak mau makan. Lebih lanjut, ini bisa membuatnya tak berkonsentrasi saat di sekolah,” tambah Anti.

Gangguan kedua adalah kelainan periodontal, yakni jaringan tempat gigi tertanam. Sementara yang paling banyak adalah gingivitis atau radang pada gusi yang disebabkan jarangnya menggosok gigi atau kebiasaan menggosok gigi yang tak tepat. Akibatnya, banyak sisa makanan yang menempel sehingga gusi meradang.

Sementara itu, halitosis atau bau mulut pun bisa mengenai Si Kecil. Hal ini, lanjut Anti, bisa disebabkan oleh penyakit sistemik, gigi berlubang, dan jarang menggosok gigi. “Gangguan berikutnya yang sering mengganggu adalah maloklusi atau gigi tak rapi,” jelas Anti. Hal ini bisa disebabkan oleh faktor genetik, bisa juga karena kehilangan gigi sulung terlalu awal.

Pencegahannya, gigi berantakan karena karies atau kehilangan gigi bisa menggunakan space maintainer (alat pencegah ruang).

Pilih Non-Fluoride

Membersihkan gigi sejak dini membuat buah hati terbiasa dengan aktivitas ini. Namun, untuk anak yang belum bisa berkumur, Anti menyarankan untuk memilih pasta gigi non-fluoride. “Pasalnya, fluoride atau fluor berfungsi untuk mempertahankan gigi supaya lrbih tahan terhadap kuman penyebab gigi berlubang.”

Saat anak belum bisa berkumur, air ketika membersihkan gigi pun beresiko tertelan. Maka ketika ia menggunakan pasta gigi mengandung fluoride, kadar fluor alias fosfor di dalam tubuhnya bisa berlebihan. “Tapi, kan, sekarang banyak pasta gigi gigi non-fluoride yang diberi esens aneka rasa. Ini aman,” jelas Anti.

Sama halnya dengan pasta gigi, memilih sikat gigi yang tepat pun penting. “Pilih yang lembut, sesuai ukuran rahang, bulunya lembut, tidak mengiritasi gusi, dan bisa mencapai seluruh permukaan gigi,” tambah Anti.

Penulis : Hasto Prianggoro,

sumber : Tabloid Nova no.1364/XXVII, 14-20 April 2014