isur72

0

Sensitive Teeth

by

Dental sensitivity occurs when the dentin (middle layer) of a tooth is exposed. Normally, the dentin is covered by enamel above the gum line and by cementum below the gum line. Dentin is made of tiny openings called tubules. Inside each tubule lies a nerve branch that comes from the tooth’s pulp (the nerve center of the tooth). When the dentin is exposed, cold or hot temperature or pressure can affect these nerve branches that can cause sensitivity.

Sensitive Teeth

Some causes of dentin exposure include :

  1. Brushing your teeth too hard. This wears away the enamel layer
  2. Poor oral hygiene. This may allow tartar to build up at the gum line
  3. Long-term tooth wear
  4. Untreated cavities
  5. An old filling with a crack or leak
  6. Receding gums that expose the tooth’s roots
  7. Gum surgery that exposes a tooth’s roots
  8. Tooth whitening in people who have tooth roots that already are exposed
  9. Frequently eating acidic foods or drinking acidic beverages

 Sensitive Teeth

 

0

Bleeding Gums

by

BLEEDING GUMS

Bleeding from the gums is mainly due to inadequate plaque removal from the

teeth at the gum line. This will lead to a condition called gingivitis or inflamed

gums. If plaque is not removed through regular brushing and dental

appointments, it will harden into what is known as tartar. Ultimately, this will

lead to increased bleeding and a more advanced form of gum and jawbone

disease known as periodontitis.

Bleeding Gums

When you check your mouth, see if you have any of these symptoms :

1. Gums are red, soft, puffy or swollen

2. Gums bleeding during brushing or flossing

3. Teeth that look longer caused by gum recession

4. Gums separating or pulling away from teeth

5. Teeth shifting or loosing

6. Changes in the way of your teeth fit when biting

7. Constant bad breath or a bad taste in mouth

8. Pus coming from between teeth and gums

Bleeding Gums2
Bleeding Gums3

Common cause of bleeding gums :

1. Gingivitis from inadequate plaque removal

2. Periodontitis (advanced form of gingivitis)

3. Toothbrush abrasion, improper flossing

4. Infection, which can be either tooth or gum related

5. Chemical irritants such as aspirin

6. Leukimia

7. Placement of new denture that can lead to denture sore/ irritation

8. Teething in babies and young children

9. Pregnancy, blood-thining medication or bleeding disorders, each can

cause gums to bleed easily

10. Lack vitamins, such as Vitamin K or Vitamin C or medical problems such

as anemia, that interfere with the body’s ability to absorbs certain

vitamins.

25

Serba-serbi gigi bungsu : Dicabut atau Dibiarkan Tumbuh?

by

Sudah seminggu ini Vita merasa gigi gerahamnya sakit, bahkan terkadang disertai sakit kepala. Setelah diperiksa dokter gigi dan dilakukan rontgen, ternyata sumbernya adalah gigi bungsu yang mulai tumbuh.

Gigi bungsu merupakan gigi geraham ketiga dan geraham terakhir yang tumbuh. Letaknya berada di bagian paling belakang deretan geraham atas dan bawah. “Umumnya, setiap orang memiliki benih gigi bungsu, meskipun waktu tumbuhnya berbeda-beda. Sama seperti gigi lainnya,” kata drg. Adritia Pratami dari Kharinta Clinic, Bintaro.

drg. Adritia Pratami

drg. Adritia Pratami

Fungsi gigi bungsu sebetulnya sama dengan gigi geraham lain. Hanya saja, karena tumbuhnya yang paling lambat dan terakhir, maka ia hanya membantu fungsi geraham pertama dan kedua. Contohnya ketika geraham pertama atau kedua rusak, tanggal, atau tidak bisa lagi berfungsi sempurna.

Namun, seiring perkembangan teknologi kedokteran gigi saat ini, “Gigi bungsu sebetulnya sudah tidak dibutuhkan lagi karena perawatan gigi yang semakin canggih dan mudah. Cuma, di kita, masih banyak orang yang tidak merawat giginya secara benar, sehingga kemungkinan gigi geraham rusak atau tanggal masih saja ada sehingga gigi bungsu masih dibutuhkan,” lanjut Tia, nama panggilan Adritia.

Tumbuh Tak Normal

Waktu tumbuh gigi bungsu pada setiap orang berbeda-beda, namun rentang tumbuh umumnya dimulai sejak usia sekitar 18 sampai 30 tahunan. Pada saat ia tumbuh, biasanya akan timbul rasa sakit, bisa disertai sakit kepala.

“Sebagian besar gejala gigi bungsu yang mau tumbuh adalah rasa sakit, gusi bengkak, terlihat seperti mahkota gigi mau keluar, rasa tidak nyaman di daerah rahang, dan pusing,” lanjut Tia. Rasa sakit ini disebabkan oleh pertumbuhan  atau erupsi gigi bungsu yang mendesak geraham lain akibat kurangnya tempat untuk tumbuh.

Posisi gigi bungsu juga menentukan tumbuhnya gigi bungsu. Misalnya, gigi bungsu akan lebih mudah tumbuh pada orang yang memiliki rahang lebar atau panjang. Sebaliknya, jika pemilik gigi bungsu berahang kecil, maka proses keluar atau erupsi gigi bungsu akan lebih susah. Begitu juga letak benih, akan memengaruhi apakah gigi bungsu keluar atau tidak.

Posisi gigi bungsu yang berada di bagian paling belakang dan erupsi yang paling akhir juga membuat gigi bungsu seringkali tidak tumbuh secara sempurna. Ada yang tumbuh normal, tapi ada juga yang mengalami impaksi alias tumbuh tidak pada tempatnya. Pertumbuhan gigi bungsu juga bisa memengaruhi letak gigi geligi, khususnya pada mereka yang memakai bracket.

Membuka Gusi

Impaksi merupakan salah satu gangguan yang muncul terkait kehadiran gigi bungsu. Impaksi adalah gigi bungsu yang tumbuh tidak pada tempatnya karena posisi yang tidak memungkinkan.

Gangguan lain adalah perikoronitis atau peradangan gusi pada mahkota gigi yang baru erupsi. “Biasanya, karena posisi gigi yang berada di bawah gusi, gigi bungsu akan mendesak gusi untuk tumbuh. Akibatnya, gusi jadi bengkak,” kata Tia.

Pada saat gigi bungsu berusaha erupsi, akan ada ruang di antara gigi dan gusi. Nah, biasanya timbunan makanan atau sisa-sisa makanan akan masuk ke celah tersebut dan menyebabkan gusi makin bengkak. Untuk mengatasinya, bisa dilakukan operkulektomi, yakni semacam operasi kecil membuka gusi dengan sayatan (insisi) sehingga permukaan gigi bungsu akan terekspos dan mudah keluar.

Tapi, tindakan ini juga tergantun posisi gigi. Kalau posisi gigi bagus tapi gusinya bengkak, biasanya hanya akan dilakukan operkolektomi atau membuka gusi dengan sayatan supaya gigi bungsu tumbuh lebih cepat dan gusi tidak meradang. Tapi, jika gigi bungsu mengalami impaksi, kebanyakan gigi bungsu akan diambil, apalagi kalau gusi sudah bengkak.

Merusak Gigi Sehat

Posisi erupsi gigi bungsu bisa beragam, ada yang keluar dengan posisi normal tegak ke atas, ada juga yang bermasalah.

Dikatakan bermasalah misalnya gigi tumbuh miring, posisi tiduran, atau hanya keluar setengah. Bisa juga gigi bungsu mendesak gigi geraham yang sehat di depannya sehingga geraham yang didesak mengalami kerusakan. “Gigi bungsu akan berusaha keluar dengan merusak gigi yang sehat. Akhirnya, gigi bungsu terpaksa dikorbankan ketimbang harus kehilangan dua-duanya,” lanjut Tia.

Posisi gigi bungsu yang tiduran biasanya berada di bawah tulang. Jika ini yang terjadi, akan dilakukan insisi pada gusi, tulang dibor, dan gigi diambil. “Penyembuhannya akan lebih lama daripada yang sudah tumbuh sedikit,” kata Tia.

Selesai operasi pun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain tidak boleh merokok. Pasalnya pada saat merokok, gusi akan menjaid kering (dry socket) sehingga area di sekitarnya akan terasa lebih sakit. Setekah dicabut, gusi jadi “bolong” dan darah akan menggumpal memenuhi bolongan. “Gumpalan darah ini diperlukan supaya gusi bisa menutup lagi,” jelas Tia. Pasalnya jika tidak, Tia melanjutkan, akan semakin lama prosesnya. “Takut malah tidak menutup denga sempurna. Sama seperti radang gusi. Makanan akan masuk dan bengkak lagi.”

Tidak Berkumur

Usai pengangkatan gigi bungsu, disarankan oula untuk tidak berkumur-kumur terlebih dahulu, setidaknya selama 24 jam. Berkumur terlalu keras memang sebaiknya dihindari karena gumpalan darah akan keluar lagi dan tidak menutup gusi secara sempurna. Menggosok gigi serta makan dan minum juga harus diperhatikan.

“Hindari makanan dan minuman yang terlalu panas. kalau mau menggosok gigi, sebaiknya hindari area yang dekat denan daerah operasi, menggosoknya pun jangan terlalu keras,” saran Tia.

Kenali Tandanya

Sebenarnya, tumbuhnya gigi bungsu merupakan sesuatu yang normal selama tidak muncul keluhan. Ada yang merasa sakit di bagian rahang, sakit gigi, atau sering sakit kepala.

“Ini karena gigi bungsu menekan saraf. Pada beberapa kasus, begitu gigi bungsu dicabut, sakit kepala akan berhenti. Timbulnya pun berbeda-beda. Pada beberapa orang, gigi bungsu malah keluar di usia-usia 30 tahunan tanpa keluhan berarti,” lanjut Tia.

Bagi siapapun yang mulai merasa gigi bungsuny tumbuh, Tia menyarankan agar segera ke dokter gigi. Dokter akan melakukan foto X-Ray untuk melihat apakah gigi bungsu tumbuh denga baik atau tidak. Selain itu, jika sudah mulai ada tanda-tanda gusi bengkak, sakit, dan terasa ada yang mengganjal di bagian belakang, lebih baik segera mencari tahu penyebabnya ke dokter gigi.

Dokter akan memutuskan apakah sebaiknya dilaukan tindakan mengangkat gigi bungsu atau cukup dengan operkolektomi, “Kalau rahangnya cukup, posisinya oke, biasanya cukup dilakukan operkolektomi,” kata Tia.

penulis : Hasto Prianggoro

Sumber : Tabloid Nova no. 1389/XXVII, 6-12 Oktober 2014

0

A to Z Tentang Gigi

by

Pertumbuhan gigi anak ditandai dengan tumbuhnya gigi sulung yang biasa disebut gigi susu, saat bayi berusia 6-9 bulan. Umumnya jumlah gigi sulung akan lengkap saat anak menginjak 3 tahun.

Sementara ketika Si Kecil berusia sekitar 5-7 tahun, gigi geraham permanen pun tumbuh untuk pertama kali. Deretan gigi permanen ini kemudian akan lengkap saat ia telah berusia 12 tahun.

Urusan kesehatan gigi sering kali lolos dari pemantauan karena gigi dianggap akan tumbuh dan berfungsi dengan sendirinya. Padahal, jika kesehatan gigi Si Kecil diabaikan, efeknya dapat ia rasakan saat beranjak dewasa.

Membersihkan gigi harus dimulai sejak dini alias pertama kali gigi tumbuh. “Di usia 6 bulan, ketika gigi bayi mulai tumbuh, orang tua bisa membersihkan gigi Si Kecil dengan kain kasa atau sikat gigi kecil yang dibahasi air putih,” ujar drg. Avianti Hartadi, Sp.KGA dari Kharinta Clinic, Bintaro.

drg. Avianti Hartadi, Sp. KGA

drg. Avianti Hartadi, Sp. KGA

Fungsi Si Sulung

Meski usianya tak terlalu lama, ternyata gigi sulung memiliki banyak fungsi lo. Salah satunya, ia berfungsi menyiapkan ruang bagi gigi permanen untuk tumbuh. “Gigi permanen tumbuh berdasar guidance dari gigi sulung. Jika gigi sulung lepas sebelum waktunya, terkadang pertumbuhan gigi pengganti tidak sesuai dengan jalur. Akibatnya, gigi anak tidak rapi,” terang dokter yang akrab disapa Anti ini.

Selain itu, ia menambahkan, gigi sulung pun ikut andil dalam fungsi berbicara, pertumbuhan rahang, dan sebagai penentu estetika. “Dengan gigi sulung, anak bisa mengunyah makanan sehingga rahang berkembang. Jika gigi anak berlubang, sakit dan anak malas untuk mengunyah makanan atau malah mengemut makanan, akibatnya rahang kurang berkembang optimal,” terang Anti.

Gangguan Gigi

Penyakit gigi yang paling umum pada anak adalah karies atau gigi berlubang. Hal ini bisa berlanjut pada gigi hitam dan karies pun meluas. Banyak orang tua menganggap karies sebagai hal biasa pada anak karena, toh, gigi sulung akan diganti dengan gigi tetap, kan?

Padahal jika karies meluas, bahkan hingga tanggal, maka ia kesulitan menggigit makanan dan fungsinya terganggu. “Apalagi karies di gigi bagian belakang yang lebih banyak digunakan untuk mengunyah. Ini bisa membuat anak kesakitan dan tidak mau makan. Lebih lanjut, ini bisa membuatnya tak berkonsentrasi saat di sekolah,” tambah Anti.

Gangguan kedua adalah kelainan periodontal, yakni jaringan tempat gigi tertanam. Sementara yang paling banyak adalah gingivitis atau radang pada gusi yang disebabkan jarangnya menggosok gigi atau kebiasaan menggosok gigi yang tak tepat. Akibatnya, banyak sisa makanan yang menempel sehingga gusi meradang.

Sementara itu, halitosis atau bau mulut pun bisa mengenai Si Kecil. Hal ini, lanjut Anti, bisa disebabkan oleh penyakit sistemik, gigi berlubang, dan jarang menggosok gigi. “Gangguan berikutnya yang sering mengganggu adalah maloklusi atau gigi tak rapi,” jelas Anti. Hal ini bisa disebabkan oleh faktor genetik, bisa juga karena kehilangan gigi sulung terlalu awal.

Pencegahannya, gigi berantakan karena karies atau kehilangan gigi bisa menggunakan space maintainer (alat pencegah ruang).

Pilih Non-Fluoride

Membersihkan gigi sejak dini membuat buah hati terbiasa dengan aktivitas ini. Namun, untuk anak yang belum bisa berkumur, Anti menyarankan untuk memilih pasta gigi non-fluoride. “Pasalnya, fluoride atau fluor berfungsi untuk mempertahankan gigi supaya lrbih tahan terhadap kuman penyebab gigi berlubang.”

Saat anak belum bisa berkumur, air ketika membersihkan gigi pun beresiko tertelan. Maka ketika ia menggunakan pasta gigi mengandung fluoride, kadar fluor alias fosfor di dalam tubuhnya bisa berlebihan. “Tapi, kan, sekarang banyak pasta gigi gigi non-fluoride yang diberi esens aneka rasa. Ini aman,” jelas Anti.

Sama halnya dengan pasta gigi, memilih sikat gigi yang tepat pun penting. “Pilih yang lembut, sesuai ukuran rahang, bulunya lembut, tidak mengiritasi gusi, dan bisa mencapai seluruh permukaan gigi,” tambah Anti.

Penulis : Hasto Prianggoro,

sumber : Tabloid Nova no.1364/XXVII, 14-20 April 2014